Karya Yayat Surya bercerita soal musik pop dan pengaruhnya dalam setiap zaman.
Lukisan-lukisan Yayat dalam “Sound Track” terdiri dari beberapa hal: teks, imej-imej fotografi bintang musik pop dan ciri khas komposisi hasil olahan teknologi program desain komputer yang dilukis ulang di kanvas.
Pameran solo Yayat, yang didukung oleh Srisasanti Artspace di Kemang, Jakarta, ini adalah panggung bagi seorang perupa yang mendadak merubah jalur estetisnya dengan memilih warna pop art. Apakah ini sekedar “bujukan pasar” bagi Yayat?
Dalam wawancara dengan kurator yang tertera di katalog pameran, Yayat menjelaskan secara lugas bahwa pada dasarnya ia tak berubah sama sekali meskipun gaya lukisannya yang dulu cenderung mengikuti kitab I-Ching di falsafah timur (corak lukisan dekoratif). Bagi Yayat hidup sejatinya sebuah proses panjang mengikuti gejolak perubahan dalam diri, alam dan iklim sosial.
Perjumpaannya dengan seni pop dan perubahan dari gaya lukisan yang geometrik dan pola heksagram adalah sebuah garis yang tetap saja lurus.
Beberapa tokoh yang dilukis, seperti bintang dari U2, Bono, dengan cermat mempresentasikan sikap pembelaanya terhadap religi tertentu dengan simbol masalah politik.
Pada saat yang sama, Michael Jackson digambarkan semisterius cerita dalam hidupnya yang penuh tragedi melalui “When Nightmares Come True”.
Yang paling menarik sebenarnya adalah patung-patung Yayat, yang menawarkan banyak tafsiran bahkan menyeret kita ke dalam pesona erotika.
Selebihnya, pameran ini cukup menarik untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita, yaitu bagaimana para bintang pop mempengaruhi zamannya.